Kerajaan Mughal di India


Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemundurun politik dan peradaban Islam, karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut lenyap di bumi hanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan.

Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah sampai ke Siberia Utara, Tibet Selatan dan Manchuria Barat serta Turkistan Timur. Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan, yang mempunyai putra kembar, Tatar dan Mongol. Kedua putra itu melahirkan dua suku bangsa besar, Mongol dan Tartar. Mongol mempunyai anak bernama Ilkhan, yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa Mongol di kemudian hari.


Kehidupan bangsa Mongol sangat sederhana. Mereka mendirikan kemah-kemah dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, mengembala kambing dan hidup dari hasil buruan. Mereka juga hidup dari hasil perdagangan tradisional, yaitu mempertukarkan kulit binatang dengan binatang yang lain, baik di antara sesama mereka maupun dengan bangsa Turki dan Cina yang menjadi tetangga mereka. Sebagaimana umumnya bangsa nomad, orang-orang Mongol mempunyai watak yang kasar, suka berperang, dan berani menghadang maut dalam mencapai keinginannya. Akan tetapi mereka sangat patuh kepada pemimpinnya. Ideologi utama dari negara mereka adalah “Mongolisme”, yang bermimpi menaklukkan dunia dan mengagungkan kekuatan kerajaan dan militer

Mongol. Agama bangsa Mongol semula adalah Syamanisme, yang meskipun mereka mengakui adanya Yang Maha Kuasa, tetapi mereka tidak beribadah kepada-Nya, melainkan menyembah kepada arwah, terutama roh jahat yang karena mampu mendatangkan bencana, mereka jinakkan dengan sajian-sajian, disamping itu mereka dengan sangat memuliakan arwah nenek moyang yang dianggap masih berkuasa mengatur hidup keturunannya.

Pemimpin atau Khan bangsa Mongol yang pertama diketahui dalam sejarah adalahYesugey. Ia adalah ayah Jenghiz (Chinggiz atau Chingis). Jenghiz aslinya bernama Temujin, seorang pandai besi yang mencuat namanya karena perselisihan yang dimenangkannya melawan Ong Khan atau Togril, seorang kepala suku Kereyt. Jenghiz sebenarnya adalah gelar bagi Temujin yang diberikan kepadanya oleh sidang kepala-kepala suku Mongol yang mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi bangsa itu pada tahun 1206, atau juga disebut Jenghiz Khan, ketika ia berumur 44 tahun. Hulagu, salah seorang keturunan dari penguasa Mongol dari Jenghiz Khan, Hulagu terkenal sebagai perusak dan penghancur Baghdad. Kekejaman dan petualangannya menghancurkan Islam dan kebudayaannya. Namun setelah sampai ke anak cucunya mereka telah berubah, bukan lagi sebagai perusak tetapi justru sebagai pembangun Islam. Kelak anak cucu dari bangsa Mongol inilah yang berhasil mendirikan Kerajaan Mughal di India.



Berdirinya Kerajaan Mughal di India
Sebelum Islam masuk di India, sekitar 6000-5000 SM bangsa Dravida datang dari Asia Barat ke India dengan kepercayaan terhadap adanya Tuhan secara abstrak. Kemudian pada abad VI SM bangsa Aria dari Persia datang menguasai Punjab dan Benaras (India Utara) dengan membawa kepercayaan adanya Tuhan secara nyata. Pada tahun 599 SM lahir Mawahir yang mempelopori lahirnya agama Jaina (ajaran ini kemudian melebur dalam agama Hindu). Pada tahun 557 SM lahir Gautama Budha di Kapilabastu di kaki gunung Himalaya dan menjadi pelopor lahirnya agama Budha. Sementara agama Hindu adalah agama yang paling penting dan banyak dianut oleh rakyat India. Hampir semua raja yang sedang berkuasa menganut agama tersebut. Tekanan yang besar dari kelompok kasta Brahmana terhadap penganut agama Budha menyebabkan mereka mengharapkan datangnya kekuatan lain yang bisa memberi perlindungan dan menghindari kekejaman penguasa Hindu. Di sisi lain, di antara penganut agama Hindu terjadi perebutan kekuasaan. konflik Hindu dan Budha, secara umum, tampak jelas dalam persaingan perdagangan. Kelompok Hindu cenderung lebih senang untuk memonopoli, sedangkan Budha lebih giat dalam memperoleh keuntungan. Menjelang masuknya Islam, agama Jaina tidak populer dan Agama Budha sedang menurun. Pada saat itulah Islam mulai masuk di India. Karena kelompok Budha lebih banyak terkalahkan dalam persaingan, akhirnya mereka lebih terbuka untuk menerima Islam. Sejarah awal masuknya Islam di India dapat dibagi dalam empat periode yaitu : Zaman Nabi Muhammad SAW, Dinasti Umayyah, Ghaznawi, dan Ghuri.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW (mulai tahun 610 M), pedagang-pedagang Arab yang telah menganut Islam sudah berhubungan erat dengan dunia Timur melalui pelabuhan-pelabuhan India, sehingga mereka berdagang sambil berda’wah. Pada masa ini, Cheraman Perumal, raja Kadangalur dari pantai Malabar telah memeluk Islam dan menemui nabi. Inilah sejarah awal masuknya Islam di Anak Benua India.

Pada masa Umar Ibn Khattab, pada tahun 643-644 M panglima Mughira menyerang Sind, tetapi gagal dikarenakan tentara Arab kurang ahli perang di laut di bandingkan di darat. Pada tahun ini pula Abdullah Ibn Amar Rabbi sampai ke Mekran untuk menyiarkan Islam dan memperluas daerah kekuasaan Islam. Pada masa Usman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib, dikirim utusan ke wilayah India untuk menyelidiki adat istiadat dan jalan-jalan menuju India. Inilah awal mula Islam menyebar ke India melalui jalan darat.

Pada masa Mu’awiyah I, terjadi perampokan terhadap orang-orang Islam di India. Atas izin Khalifah Al-Walid, ia mengirim Muhammad Ibn Qasim (usianya 17 tahun), untuk memimpin pasukan. Dalam waktu 4 tahun lebih, Sind dan Punjab dapat ditaklukkan dan dikuasai. Bin Qasim menjadi gubernur yang menjalankan pemerintahan dengan rasa kemanusiaan yang tinggi. Riwayatnya berakhir tragis akibat pertikaian politik, setelah itu ada 9 orang gubernur tetap berkuasa di wilayah itu sampai datangnya dinasti Ghazni. Pada akhir abad ke-10, Alptgin menaklukkan Ghazni dan memperkuat kota dengan parit dan benteng. Pada tahun 976-977 M, naiklah menantu dan bekas budaknya, Sabktegin, ia dapat menaklukkan Kabul dan Kandahar, menyerang Lahore, Delhi, Ajmir, Qanauj, Kalinjar. Pada tahun 997 M Sabktegin digantikan oleh putranya Mahmud, yang kemudian terkenal dengan gelar Mahmud Ghaznawi. Ia melakukan penyerangan dan penaklukan sebanyak 17 kali ke daerah Lahore, Delhi, Ajmir, Qanauj, Gawaliur, Kalinjar, Ujjain, Nagarakot, dan Doab yang semuanya dimenangkan. Pada tahun 1024-1025 M menyerang dan menaklukkan Gujarat dan menghancurkan berhala Samonath yang terkenal besar dan megah di India. Mahmud digantikan oleh putranya Muhammad, tetapi Muhammad tidak lama memerintah, lalu digantikan oleh saudaranya, Mas’ud Ibn Mahmud. Mas’ud memperluas kekuasaannya dengan menaklukkan negeri Oudh (Ayyuda) dan Benaras. Sepinggal Mas’ud tidak ada lagi pengganti yang kuat.

Pada tahun 1186 M, Alauddin Husain Ibn Husain merebut negeri Ghaznah yang sudah lemah, setelah itu ia digantikan oleh Ghias al-Din Abul Muzaffar Muhammad Ibn Sam. Kemudian ia digantikan oleh saudaranya Syihab al-Din. Kemudian naiklah Alauddin Muhammad Ibn Sam. Tokoh yang terkenal dalam sejarah adalah Sultan Muhammad Abdul Muzaffar Ibn al-Husain al-Ghori (Muhammad Ghuri). Ia menguasai seluruh wilayah yang dahulunya dikuasai Dinasti Ghazni. Pada tahun 1192 M ia memenangkan peperangan Tarain II melawan persekutuan raja-raja India yang dipimpin oleh Pritthiraj dan menguasai Delhi, Merat dan Agra. Pada tahun 1193 M ia menaklukkan Qanauj, dan menunjuk panglima perang dan hamba sahayanya, Aibek sebagai wakil tetap di India yang berpusat di Delhi. Aibek dapat menaklukkan Oudh dan Benaras.

Penaklukkan berlanjut pada tahun 1195 M ke Guwaliur, 1196 M ke Gujarat, 1201 M ke Kalinjar. Di samping itu ada pula hamba sahayanya yang bernama, Bakhtiar Khilji, yang merampas negeri Bihar dan Bengala (sekarang Bangladesh) dari kerajaan Magadh (Budha) pada tahun 1194 M. Sepeninggal Muhammad Ghuri, naiklah Quthubuddin Aibek yang merupakan bekas budak dan panglima perang Ghuri, yang memberi letter of manumission (merdeka dari perbudakan). Aibek mendapat gelar sultan pada tahun 1206 M.40 Sejak saat itu berdirilah kesultanan Delhi yang meliputi : Dinasti Mamluk (1206-1290 M), Khalji (1290-1320 M), Tughlug (1320-1414 M), Sayyed (1414-1451 M), dan Lodi (1451-1526 M). 

Dinasti Mamluk didirikan oleh seorang budak yang bernama Altamasy yang dimerdekakan oleh Aibek dan di angkat menjadi pembesar istana karena pada saat itu menganti Aibek, anaknya Aram Shah tidak bisa memimpin dengan baik. Altamasy berhasil memperluas kekuasaan Islam ke sebelah utara (Malawa) dan menyelamatkan negerinya dari serangan Mongol. Setelah itu ia menunjuk anak perempuannya, Raziya, sebagai pengganti dengan alasan semua anak lakilakinya tidak ada yang mampu. Dalam sejarah Islam Sultan Raziya adalah perempuan pertama yang berkuasa. Pada tahun 1240 M terjadi pemberontakan untuk menolak sultan perempuan yang menjatuhkan Raziya oleh Bahram Shah, putra dari Iltutmish, namun Bahram Shah tidak mampu memimpin , akhirnya pada tahun 1246 M pamannya, Nasiruddin Mahmud naik tahta, kemudian ia di gantikan oleh Balban.

Setelah Balban wafat, penggantinya, Kaikobad, tidak cakap sebagai pemimpin. Dengan dukungan para pembesar istana, Jalaluddin Khalji (75 tahun) naik tahta pada tahun 1290M. Setelah itu Alauddin Khalji yang merupakan keponakan sekaligus menantu Jalaluddin Kahlji naik tahta berkat dukungan para bangsawan. Alauddin Khalji memperluas kekuasaannya sampai ke Gujarat, Rajasthan, Deccan, dan sebagian wilayah India Selatan. Pengganti Alauddin Khalji adalah Quthubuddin Mubarak Khalji, namun ia dan keluarganya dibunuh Ghazi Malik Tughlaq, gubernur Depalpur, dapat menguasai Delhi dengan membunuh Khusru.

Ghazi Malik menduduki tahta dengan gelar Ghiyasuddin Tughlug. Beberapa wilayah dikuasainya antara lain Bidar, Warrangal dan Bangla. Namun dalam perjalanan kembali dari Bengla, Ghiyasuddin Tughlug meninggal dunia pada tahun 1325 M. Juna Khan terpilih sebagai pengganti Sultan ia naik tahta dengan gelar Muhammad Ibn Tughlug.44 Ia merupakan sultan pertama yang mengangkat warga non-Muslim dalam tugas kemiliteran dan tugas-tugas administratif pemerintahan, terlibat di dalam perayaan lokal, dan mengizinkan pembangunan kuil-kuil Hindu.45 Ia wafat pada tahun 1351 M ketika negara dilanda pemberontakan. Fihruz Shah, sepupunya, naik tahta setelah meredam pemberontakan di Sind dan penyerangan Mongol. Setelah kematian Fihruz pada tahun Shah pada tahun 1388 M penggantinya tidak ada yang mampu. Nashiruddin Muhammad Tughluq adalah orang terakhir dalam Dinasti Tughlug. Pada tahun 1414 M, Khizir Khan, utusan Timur di Debalpur dan Multan dapat menguasai politik di Delhi.

Khizr Khan merupakan pendiri dari Dinasti Sayyid yang alim, pemberani dan sangat mampu memimpin. Ia meninggal dunia pada tahun 1421 M. Kemudian Mubarak Shah naik tahta, namun ia terbunuh pada tahun 1434 M oleh seorang bangsawan bernama Sardarul Mulk. Keponakan Mubarak, Muhammad Shah, naik tahta. Ia membalas kematian pamanya dengan menangkap dan membunuh oleh Khusru, gubernur Deccan yang ingin merebut tahta. Lima bulan kemudian Sardarul Mulk. Muhammad Shah memimpin selama 12 tahun, ia di gantikan oleh anaknya, Alauddin Alam Shah, yang merupakan raja terakhir dan terlemah dalam Dinasti Sayyid. Ia secara sukarela menyerahkan tahtanya kepada Bahlul Lodi. Bahlul Lodi naik tahta pada tahun 1451 M. Sultan Lodi adalah satusatunya sultan Delhi yang berasal dari suku bangsa Pathan. Sultan-sultan Delhi yang lain adalah bangsa Turki. Aksi Bahlul Lodi yang menonjol adalah penaklukan Jaunpur. Ia bertahta selama 38 tahun dan meninggal pada 1389 M. Nizam Khan, putra kedua Bahlul Lodi naik tahta dengan gelar Sikander Lodi. Ia meninggal dunia pada tahun 1517 M setelah berhasil memimpin selama 28 tahun. Akhirnya, Ibrahim Lodi, naik tahta. Tetapi terjadi pemberontakan di Jalal Khan. Ia banyak memenjarakan bangsawan yang menentang. Hal ini memicu lebih banyak pemberontakan. Pada 21 April 1526 M terjadi pertempuran yang dahsyat di panipat antara Babur dan Ibrahim Lodi.46 Pasukan Lodi berjumlah 100.000 kekuatan tentara dengan 1000 pasukan gajah, sedangkan tentara Babur hanya berjumlah 25.000.47 Ibrahim Lodi beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Walaupun pasukannya lebih kecil jumlahnya, barangkali karena keperkasaan yang diwarisi leluhurnya serta prajuritnya yang terlatih dan loyal, Babur berhasil tampil sebagai panglima yang memenangkan pertempuran. Setelah Babur memperoleh kemenangan ia beserta pasukannya memasuki kota Delhi untuk menegakkan pemerintahan. Dengan ditegakkannya pemerintahan Babur di kota Delhi, maka berdirilah kerajaan Mughal di India pada tahun 1526 M.

Periodesasi Kerajaan Mughal di India
Seperti yang telah diuraikan di atas, kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di India. Tetapi sebelumnya telah ada beberapa kerajaan, dan upaya memperjuangkan Islam di sana. Kerajaan Mughal merupakan kelanjutan dari kesultanan Delhi, kerajaan Mughal juga merupakan kerjaan Islam terakhir di India, hingga berganti dengan pemerintahan imperalisme Inggris memerintah di sana. Kerajaan ini merupakan anak cucu dari bangsa Mongol. Diantara keturunannya adalah Timur Lenk, keturunan Jengiz Khan yang telah masuk Islam dan pernah berkuasa di Asia Tengah pada abad ke-15.Timur Lenk pertama kali kali melakukan penyerangan ke India pada tahun 1398. Meskipun begitu, ia tidak berambisi untuk menguasainya. Penaklukan India yang sesungguhnya baru di lakukan oleh Zahiruddin Muhammad Babur, salah seorang keturunan dari Timur Lenk.


1. BABUR (1526-1530 M)
Babur bernama lengkap Zahiruddin Muhammad Babur. Secara geneologis Babur merupakan cucu Timur Lenk dari pihak ayah dan keturunan Jenghiz Khan dari pihak ibu. Ayahnya Umar Mirza, merupakan seorang penguasa Ferghana.57 Masa pemerintahan Babur ditandai oleh dua persoalan besar yakni bangkitnya kerajaan-kerajaan Hindu yang mencoba melepaskan diri dari kekuasaan Islam, mereka memberontak antara tahun 1526 dan 1527 M dan munculnya penguasa muslim yang mengakui pemerintahannya di Afghanistan yang masih setia kepada keluarga Lodi. Namum Babur dapat menyelesaikan semua persoalan tersebut.


2. HUMAYUN (1530-1540 M dan 1556 M)
Babur digantikan oleh putra sulungnya, Humayun yang bernama lengkap Naseeruddin Humayun. Namanya berarti "yang disukai oleh keberuntungan". Humayun adalah orang yang cinta damai, ia adalah orang yang berkualitas, tapi ia tidak bisa menyesuaikan diri dengan hal-hal yang ada di sekelilingnya. Selain itu adalah seorang raja yang dermawan, ramah dan suka memaafkan. Pada awal pemerintahannya, Humayun mengalami kesulitan karena perilaku dari saudara-saudaranya yang menuntut hak untuk memerintah. Dalam wasiatnya, Babur telah menginstruksikan Humayun untuk bersikap baik kepada saudara-saudaranya. Humayun memperlakukan saudara-saudaranya dengan ramah, tetapi mereka mengambil keuntungan dari kebaikan Humayun. Kamran ingin mendirikan pemerintahan di Kabul. Setelah kematian Babur, Kamran menyerbu Punjab dan menguasainya. Karena kebaikannya kepada saudaranya, Humayun merestui pendudukan Punjab oleh Kamran.

Meskipun orang-orang Afghan telah dikalahkan di pertempuran Panipat dan Gogra, namun mereka tidak betul-betul tunduk dan mereka ingin melakukan pembalasan dendam terhadap Mughal dan mengusir mereka dari tanah India. Setelah kematian Babur, orang-orang Afghan di bawah Mahmud Lodhi mengajukan tawaran untuk menggulingkan Kerajaan Mughal. Mahmud Lodhi memimpin pemberontakan di Jaunpur . Humayun memimpin sendiri pertempuran yang terjadi Jaunpur. Namun, orang-orang Afghan dapat dikalahkan oleh pasukan Humayun dan Jaunpur dapat direbut kembali oleh Kerajaan Mughal. Kemudian orang-orang Afghan selanjutnya di bawah kekuasaan Sher Khan, dan menguasai Chunar. Humayun bergerak ke Chunar. Pertempuran Chunar tidak menentu dan tidak jelas, dan perjanjian yang dilakukan dengan orang-orang Afghan di lakukan dengan terburu-buru, yang akhirnya merugikan kerajaan Mughal.

Sementara itu di Gujarat terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Bahadur Shah, penguasa Gujarat. Ia ingin menggulingkan pemerintahan Humayun. Hamayun meninggalkan istana dan menyelesaikan persoalan Gujarat. Pada tahun 1534, Humayun menyerang Malwa, bagian timur negara Gujarat. Dalam konfrontasi yang berlangsung, Bahadur Shah mengalami kekalahan dan mundur. Humayun mengejar sampai ke Gujarat. Bahadur Shah mengurung diri di benteng Champanir. Bahadur Shah berlindung dengan Portugis di pulau Diu, dan akhirnya Gujarat di gabung kerajaan Mughal.

Ketika Humayun masih berada di Gujarat, orang-orang Afghan mempunyai kesempatan untuk mengumpulkan kekuatan. Orang-orang Afghan di bawah pimpinan Sher Khan dapat menguasai Bengal dan dengan cara ini mereka memperoleh kekuatan. Sher Khan sekarang menjadi ancaman besar bagi pemerintahan Mughal. Humayun bergegas dari Gujarat ke Bengal, dan berhasil menangkap Gaur, pimpinan Bengal. Ketika musim hujan, peperangan dihentikan. Setelah itu, wabah menyerang pasukan Mughal kemudian Humayun memutuskan untuk kembali ke Agra. Tetapi Sher Khan sudah memutuskan komunikasi. Akhirnya dua kekuatan antara pasukan Mughal dan pasukan Sher Khan bertemu, dan terjadilah pertempuran Chausa pada tahun 1539. Tentara Mughal telah kehilangan semangat dan menderita kekalahan besar. Harta kerajaan Mughal jatuh ke tangan Sher Khan. Sementara Humayun menyelamatkan dirinya dari kesulitan dengan melintasi sungai dengan bantuan seorang pembawa air.

Setelah pertempuran chausa, Sher Khan menyatakan dirinya sebagai kaisar. Humayun melakukan upaya lain dengan mencoba mengadu pedang dengan orang-orang Afghan. Pada 1540 M, terjadi perang antara Mughal dengan orang-orang Afghan di Qanuj. Namun sayang, keberuntungan tidak lagi berpihak kepada Mughal, dan mereka kalah. Humayun dikhianati oleh saudara-saudaranya dan ia melarikan diri dan mengembara bagaikan buronan di padang pasir Sind selama tiga tahun. Selama periode ini ia menikah Hamida Banu, dan Akbar lahir pada Oktober 1541. Setelah itu Humayun melanjutkan ke Persia, dan mencari perlindungan dengan raja Safawi yaitu Shah Tahmasp.58 Di sinilah ia mengenal tradisi Syiah bahkan sering dibujuk untuk memasukinya, termasuk anaknya Jalaludin Muhammad Akbar. Di sini pula ia membangun kembali kekuatan militer yang telah hancur, dan berkat bantuan Shah Tahmasp yang memberinya pasukan militer sebanyak 12.000 tentara kemudian terkumpul seluruhnya sebanyak 14.000 orang. Humayun mencoba kembali merebut kekuasaannya di Delhi. Pada tahun 1555 M ia menyerbu Delhi yang saat itu diperintah Sikandar Sur (dari Dinasti Sur 1540-1555). Akhirnya ia bisa memasuki kota ini dan ia bisa memerintah kembali sampai tahun 1556 M. Pada tahun 1556 M, ia meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Jalaludin Muhammad Akbar.59


3. AKBAR (1556-1605 M)
Sepeninggal Humayun, tahta kerajaan Mughal dijabat oleh putranya Akbar. Ia bergelar Sultan Abdul Fath Jalaluddin Akbar Khan. Masa pemerintahannya dikenal sebagai masa kebangkitan dan kejayaan Mughal sebagai sebuah dinasti Islam yang besar di India. Akbar adalah seorang pemberani, berwatak keras, senang berperang, berburuh, dan memanah. Pada masa kecilnya, ia lebih mengutamakan berburu daripada belajar, sehingga selama hidupnya ia kurang bisa membaca dan menulis. Walaupun demikian, ia meniru sifat kakek dan ayahnya yang sangat suka mendengarkan orang-orang yang menuntut ilmu. Akbar suka membantu perkembangan sastra dan ilmu pengetahuan. Ketika menerima


tahta kesultanan ini, Akbar baru berusia 14 tahun, sehingga seluruh urusan pemerintahan dipercayakan kepada Bairam Khan, kawan dekat ayahnya, seorang penganut Syiah. Di awal masa pemerintahannya, Akbar menghadapi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang masih berkuasa di Punjab. Pemberontakan yang paling mengancam kekuasaan Akbar adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pasukan pemberontak berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut kedatangan pasukan tersebut sehingga terjadilah peperangan dahsyat yang disebut Panipat II pada tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan dan ditangkap, kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan Gwalior dapat dikuasai penuh. Setelah Akbar dewasa ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syiah. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M. Setelah persoalan-persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai menyusun program ekspansi. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam suatu pemerintahan militeristik. Pemerintah pusat dipegang oleh raja. Pemerintah daerah dipegang oleh Sipah Salar atau kepala komandan. Sedangkan sub distrik dikepalai oleh Faudjar atau komandan. Jabatan-jabatan sipil juga memakai jenjang militer dimana para pejabatnya diwajibkan mengikuti lahitan militer (tajnid). Keberhasilan ekspansi militer Akbar menandai berdirinya Mughal sebagai sebuah kesultanan besar. Dua gerbang India yakni kota Kabul sebagai gerbang ke arah Turkistan, dan kota Kandahar sebagai gerbang ke arah Persia, dikuasai oleh pemerintahan Mughal. Di samping itu Akbar menerapakan politik “Sulh-e-Kul” atau toleransi universal, yang memandang semua rakyat sama derajatnya, mereka tidak dibedakan sama sekali oleh ketentuan agama atau lapisan sosial. Di antara reformasi itu adalah :
a. Menghapuskan jizyah bagi non-muslim.
b. Memberikan pelayanan pendidikan dan pengajaran yang sama bagi setia masyarakat, yakni dengan mendirikan madrasah-madrasah dan memberi tanah-tanah wakaf bagi lembaga-lembaga sufi berupa iqtha atau madad ma’asy.
c. Membentuk undang-undang perkawinan baru, di antaranya melarang orang-orang nikah muda, berpoligami, bahkan ia menggalakkan kawin campurantaragama. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, stabilitas dan integrasi masyarakat muslim dan non-muslim.
d. Menghapuskan pajak-pajak pertanian terutama bagi petani-petani miskin sekalipun non-muslim.
e. Menghapuskan tradisi perbudakan yang dihasilkan dari tawanan perang dan menagtur khitanan anak-anak.


Dalam bidang agama, secara formal ia mengumumkan agama barunya yang bernama Din-i-Ilahi.Din-i-Ilahi yaitu menjadikan semua agama yang ada di India menjadi satu. Tujuannya adalah kepentingan stabilitas politik. Dengan adanya penyatuan agama ini diharapkan tidak terjadi permusuhan antar pemeluk agama.

Adapun ciri-ciri dari Din-i-Ilahi adalah sebagai berikut :
a. Percaya pada keesaan Tuhan.
b. Akbar sebagai khalifah Tuhan dan seorang padash (al-insan al-kamil), ia mewakili Tuhan di muka bumi dan selalu mendapat bimbingan langsung dari Tuhan, ia terma’shum dari segala kesalahan.
c. Semua pemimpin agama harus tunduk dan sujud pada Akbar.
d. Sebagai manusia padash, ia berpantangan memakan daging (vegetarian).
e. Menghormati api dan matahari sebagai simbol kehidupan.
f. Hari ahad sebagai hari resmi ibadah.
g. “Assalamualaikum” diganti “Allahu Akbar” dan “Alaikum Salam” diganti “Jalla Jalalah”.


Sementara itu dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, menyebutkan, ada beberapa ajaran Din-i-Ilahi yang dianggap asing karena tidak lazim dilakuka oleh muslim pada umumnya, antara lain :
a. Untuk menyongsong kematian, setiap pengikut harus mengadakan pesta kematian.
b. Setiap pengikut harus merayakan hari ulang tahun dan memberi sedekah.
c. Para pengikut tidak boleh makan daging sapi, tetapi boleh menganjurkan orang lain untuk makan daging sapi.
d. Jika seorang pengikut mati, para ahli warisnya harus membuangnya ke sungai kemudian dikeluarkan dan membakarnya.
e. Bagi pengikut yang mati dikuburkan maka kepalanya berada di arah timur dan kakinya di arah barat. Posisi tidur pengikut ajaran ini juga sama dengan posisi orang mati yang dikuburkan.
f. Pada acara kematian setiap pengikut harus mengenakan pakaian berwarna merah.
g. Sajdah (bersujud dengan mencium tanah/Zameen Boos) lazim diberikan kepada raja.
h. Babi dianggap bersih dan suci.
i. Mandi junub (mandi setelah berkumpul dengan istri) tidak wajib.
j. Shalat, puasa, dan haji tidak wajib.
k. Dalam setahun terdapat 14 hari raya (bukan 2 hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha).
l. Belajar Bahasa Arab, Agama, Fikih, Tafsir, dan Hadis dianggap tidak baik.
m. Akbar menolak Isra’ Mikraj Nabi Muhammad SAW.
n. Khitanan tidak wajib.
o. Syahadat Din-i-Ilahi adalah La Ilaha illa Allah Akbar Khalifatullah (tidak ada Tuhan selain Allah dan Akbar adalah khalifah Allah).
p. Di masjid kerajaan tidak boleh ada adzan.

Adapun faktor-faktor yang mendorong Akbar menciptakan Din-i-Ilahi adalah sebagai berikut :
a. Para ulama dan pemimpin agama saling berbeda pendapat mengenai masalah-masalah keagamaan. Mereka saling mengecam dan berpecah-belah.
b. Keadaan rakyat dan penganut agama-agama di India semakin fanatik karena pengaruh tokoh-tokoh agama, bahkan rakyat tidak sedikit yang saling bertikai.
c. Pengaruh penasihat-penasihat agama dan politik Akbar, di antaranya Abu Fadhl, Mir Abdul Lathif (Persia) dan Syaikh Mubaraq yang membiarkan bahkan tidak jarang Akbar berpikir bebas dan radikal. Usaha lain Akbar adalah membentuk Mansabdharis, yaitu lembaga public service yang berkewajiban menyiapkan segala urusan kerajaan, seperti menyiapkan sejumlah pasukan tertentu. Lembaga ini merupakan satu kelas penguasa yang terdiri dari berbagai ethnis yang ada, yaitu Turki, Afghan, Persia dan Urdu. Pada tahun 1605 M, raja Mughal yang sangat mashur ini wafat.


4. JEHANGIR (1605-1627 M)
Penerus Akbar, yaitu anaknya Jehangir. Masa pemerintahan Jehangir kurang lebih selama 23 tahun. Ia adalah penganut ahl al-sunnah wa al jama’ah, sehingga Din-i-Ilahi yang dibentuk ayahnya menjadi hilang pengaruhnya. Pemerintahan Jehangir juga diwarnai dengan pemberontakan di Ambar yang tidak mampu dipadamkan. Pemberontakan juga muncul dari dalam istana yang dipimpin oleh Kurram, putranya sendiri. Dengan bantuan panglima Muhabbat Khar, Kurram menangkap dan menyekap Jehangir. Berkat usaha permaisuri, permusuhan ayah dan anak ini dapat dipadamkan. Pada masa kepemimpinannya, Jehangir berhasil menundukkan Bengala, Mewar, dan Kangra. Usaha-usaha pengamanan wilayah serta penaklukan yang ia lakukan mempertegas kenegarawan yang diwarisi oleh ayahnya, Akbar.


5. SYAH JEHAN (1627-1658 M)
Syah Jehan tampil menggantikan pemerintahan Jehangir. Syah Jehan adalah seorang yang terpelajar, ia memiliki bakat kepemimpinan dan memiliki jiwa intelektual dan seni. Bibit-bibit disintegrasi mulai tumbuh pada pemerintahannya. Hal ini sekaligus menjadi ujian terhadap politik toleransi Mughal. Dalam masa pemerintahannya terjadi dua kali pemberontakan. Tahun pertama masa pemerintahannya, Raja Jujhar Singh Bundela berupaya memberontak dan mengacau keamanan, namun berhasil dipadamkan. Raja Jujhar Singh Bundela kemudian diusir. Pemberontakan yang paling hebat datang dari Afghan Pir Lodi atau Khan Jahan, seorang gubernur dari provinsi bagian selatan. Pemberontakan ini cukup menyulitkan. Namun pada tahun 1631 M, pemberontakan ini dipatahkan dan Khan Jahan dihukum mati. Pada masa ini pemukim portugis di Hughli Bengala mulai berulah. Di samping mengganggu keamanan dan toleransi hidup beragama, mereka menculik anak-anak untuk dibaptis masuk agama Kristen. Tahun 1632 M, Syah Jehan berhasil mengusir para pemukiman Portugis dan merebut hak-hak istimewa mereka.

Di bidang kebudayaan menunjukkan suatu atmosfer yang sangat gemilang, sebagai puncak masa kemakmuran antara perpaduan Turki, Mongol, Persia dan India yang terlihat pada bangunan bangunan Taj Mahal, masjid-masjid dan lain sebagainya. Secara umum, pada periode Syah Jehan, terutama di akhir-akhir kekuasaannya, ada dua kebijakan secara keseluruhan yang dimainkan oleh kedua putranya, Darsyikuh dan Aurangzeb. Darsyikuh lebih berpikiran universal, yakni lebih banyak menggunakan hukum-hukum Hindu bila dalam Al-Qur’an tidak ditemukan, dibandingkan hasil-hasil ijtihad para ulama saat itu. Sedangkan Aurangzeb lebih menekankan tradisi keislaman (nilai-nilai syari’ah, tradisional). Dan pada akhirnya Darsyikuh dibunuh oleh Aurangzeb. Syah Jehan meninggal dunia pada 1657 M, setelah menderita sakit keras.

6. AURANGZEB / ALAMGHIR I (1658-1707 M)
Aurangzeb bergelar Alamghir Padshah Ghazi. Ia penguasa yang berani dan bijak, kebesarannya sejajar dengan Akbar, Pendahulunya. Sistem yang dijalankan Aurangzeb banyak berbeda dari pendahulunya. Kebijakan-kebijakan yang telah dirintis oleh sultan-sultan sebelumnya banyak diubah, khususnya yang menyangkut hubungan dengan orang-orang Hindu. Aurangzeb adalah penguasa Mughal pertama yang membalik kebijakan konsiliasi dengan hindu. Di antara kebijakannya adalah pada tahun 1659 M, melarang minuman keras, perjudian prostitusi, dan pengguanaan narkotika. Tahun 1664 M ia juga mengeluarkan dekrit yang isinya tidak boleh memaksa wanita untuk satidaho, yaitu pembakaran diri seorang janda yang ditinggal mati suaminya, tanpa kemauan yang bersangkutan. Pada tahun 1668 M, Aurangzeb juga melarang pertunjukan musik di istana, membebani non-muslim dengan poll-tax yaitu pajak untuk mendapatkan hak memilih, menyuruh perusakan kuil-kuil Hindu yang disalahgunakan untuk kegiatan-kegiatan politik dan mensponsori pengkodifikasian hukum Islam yang di kenal dengan Fatawa-I, Alamgiri. 

Tindakan Aurangzeb di atas menyulut kemarahan orang-orang Hindu. Hal inilah yang akhirnya menimbulkan pemberontakan di masanya. Namun karena Aurangzeb sangat kuat, pemberontakan itu pun dapat dipadamkan. Pemberontakan terbesar adalah dari kerajaan Maratha yang dipimpin rajanya sendiri, Shivaji Punsala. Pemberontakan juga terjadi terjadi pemberontakan dari suku Pathan, suku Afridis karena kecewa dengan kebijakan pemerintah Aurangzeb. Jaswant Singh, juga memberontak pada saat pertempuran di Kara. Sementara itu pemimpin Rajput, Durgades, juga memberontak dengan melakukan perang gerilya. Namun usahanya gagal karena gempuran milter Mughal terlalu kuat.

Meskipun pemberontakan-pemberontakan tersebut dapat dipadamkan, tetapi tidak sepenuhnya tuntas. Ibarat api dalam sekam, semangat perlawanan dari orang-orang Hindu tetap membara. Hal ini terbukti ketika Aurangzeb meninggal pada 1707 M, banyak provinsi-provinsi yang letaknya jauh dari pusat kerajaan memisahkan diri.

7. Pemerintahan Pasca-Aurangzeb
Sepeninggal Aurangzeb pada tahun 1707 M, kesultanan Mughal di perintah oleh generasi-generasi yang lemah. Sampai tahun 1858 M sultan-sultan Mughal tidak mampu lagi mengendalikan wilayah yang cukup luas dan kekuatan lokal Hindu yang cukup dinamis, di samping karena konflik di antara mereka sendiri yang berebut kekuasaan. Sultan-sultan penerus Aurangzeb yaitu : Bahadur Syah (1707-1712 M), Azimusyah (1712-1713 M), Farukh Siyar (1713-1719 M), Muhammad Syah (1719-1748 M), Ahmad Syah (1748-1754 M), Alamghir II (1754-1759 M), Syah Alam (1761-1806 M), Akbar II (1806-1837 M), dan Bahadur Syah II (1837-1858 M). Sampai tahun 1858 M, sultan-sultan Mughal tidak mampu lagi mengendalikan wilayah yang cukup luas dan kekuatan lokal Hindu yang cukup dinamis, di samping juga karena konflik di antara mereka sendiri yang berebut kekuasaan. Di tahun ini pula Inggris dengan bantuan raja-raja Hindu dapat mematahkan perlawanan yang mereka lakukan terhadap Inggris.


Sumber: 



0 Response to "Kerajaan Mughal di India"

Post a Comment